BAB II KERUKUNAN INTERN DAN ANTAR UMAT BERAGAMA

BAB II

KERUKUNAN INTERN DAN ANTAR UMAT BERAGAMA

 

        Pada bab 2 ini disajikan uraian tentang  Islam agama rahmat bagi seluruh alam,  pengertian persaudaraan (ukhuwah), macam-macam ukhuwah, pentingnya ukhuwah, penyakit-penyakit ukhuwah, upaya dalam mewujudkan ukhuwah, kerukunan, kebersamaan dan pluralitas agama.

A.    Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam

        Setiap agama di dunia kebanyakan mengambil nama dan penemunya atau tempat agama tersebut dilahirkan dan dikembangkan, sebagaimana nasrani yang mengambil nama dari tempat Nazareth, agama budha yang berasal dari penemunya, Budha Gautama. Tetapi tidaklah demikian untuk agama Islam. Agama Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang, tempat atau masyarakat tertentu agama ini dilahirkan atau disiarkan.

Agama Islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam As. Kemudian Allah turunkan secara  berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul berikutnya. Akhirnya penurunan agama Islam itu terjadi pada masa kerasulan Muhammad SAW pada awal abad VII masehi.

        Ketika Islam mulai disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat Arab, beliau mengajak masyarakat untuk menerima dan menaati ajaran Islam, tanggapan yang mereka sampaikan pada Rasulullah adalah sikap heran, aneh dan ganjil. Islam dianggap sebagai ajaran yang menyimpang dan tradisi leluhur yang telah mendarah daging bagi masyarakat Arab, yang telah mereka taati secara turun temurun, dan mereka tidak mau tahu apakah tradisi itu salah atau benar (Qs. Al Baqarah : 170). Di dalam sebuah hadis juga digambarkan,  bahwa Islam datangnnya dianggap asing dan akan kembali dianggap asing, namun berbahagialah orang yang dianggap asing tersebut.

Kata Islam berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, kerukunan, keselamatan dan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya, bukan untuk mendatangkan dan membuat membuat bencana atau kerusakan di muka bumi. Inilah yang disebut fungsi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatal lil alami)

Fungsi Islam sebagai rahmatal lil alamin tidak tergantung pada penerimaan atau penilaian manusia. Substansi rahmat terletak pada fungsi ajarannya tersebut. Fungsi itu baru akan terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk-makhluk yang lain, jika manusia sebagai pengembangan amanat Allah telah menaati dan menjalankan aturan-aturan ajaran Islam dengan benar dan kaaffah.

        Fungsi Islam sebagai rahmat dan bukan sebagai agama pembawa bencana, dijelaskan oleh Allah dal Al-Qur’an Surat Al Anbiya : 170, :    “ Dan tidaklah Kami mengutus kamu Muhammad SAW, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Sedangkan bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu seperti berikut ini.

a.     Islam menunjukkan manusia jalan hidup yang benar.

b.     Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang diberikan oleh Allah secara tanggung jawab.

c.      Islam menghormati dan menghargai manusia sebagai hamba Allah, baik mereka muslim maupun yang beragama lain.

d.     Islam mengatur pemnafaatan alam secara baik dan proposional.

e.      Islam menghormati kondisi spesifik individu manusia dan memberikan perlakuan yang spesifik pula.

 

B.    Persaudaraan (Ukhuwah) dalam Islam

a.     Makna Ukhuwah

        Kata ukhuwah berarti persaudaraan. Maksudnya adanya perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan ini menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap saling membagi kesenangan kepada pihak lain mengalami kesulitan. Ukhuwah yang perlu kita jalani bukan hanya inter seagama saja. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah antar umat beragama.

b.    Macam-Macam Ukhuwah

Manusia yang baik adalah manusia yang dapat menjalin dan mempererat ukhuwah antar sesama manusia. Ada tiga macam ukhuwah yang seharusnya dijalin dikehidupan manusia.

1.       Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau persaudaraan yang diikat oleh akidah/keimanan, tanpa membedakan golongan. Sesama akidahnya sama (laa ilaaha illallah) maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin sebaik-baiknya. Sebagai mana dijelaskan Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 10, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara. Oleh karena itu pereratlah simpul persaudaraan diantaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmat”.

Dari ayat diatas jelas bahwa kita sesama umat Islam ini adalah saudara, dan wajib menjalin terus persaudaraan diantara sesama umat Islam, marilah yang saudara kita jadikan saudara dan jangnlah saudara kita dianggap sebagai musuh, hanya karena masalah-masalah sepele kecil yang tidak berarti. Jika kita lakukan, akan terjadi permusuhan yang pada akhirnya dapat melumpuhkan kerukunan dan keutuhan bangsa.

2.       Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah,  persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Persaudaraan yang diikat oleh jiwa kemanusiaan. Maksudnya, kita sebagai manusia harus dapat memanusiakan manusia dan memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.

Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Sekalipun, Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan atas pertimbangan rasionya. Jika ukhuwah insaniyah, tidak dilandasi dengan ajaran agama keimanan dan ketakwaan yang akan muncul adalah jiwa kebinatangan yang penuh keserakahan dan tak kenal halal atau haram, bahkan dapat bersikap kanibal terhadap sesamanya. Thomas Hobber mengatakan bahwa manusia disebut ­homo homini lopus artinya manusia adalah serigala bagi manusia lain.

3.       Ukhuwah Wathoniyah, persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme/jiwa kebangsaan tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Semuanya itu adalah saudara yang perlu untuk dijalin, karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia. Mengingat pentingnya menjalin hubungan kebangsaan ini Rasulullah bersabda “hubbul wathon minal iman” artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari iman.

Sebagai seorang Muslim, harus berupaya semaksimal  mungkin untuk mengaktualiksasikan ketiga macam ukhuwah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, apabila ketiganya terjadi secara bersamaan, maka yang harus kita prioritaskan adalah Ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah ini menyangkut kehidupan dunia dan akhirat.

c.      Pentingnya Ukhuwah

Ditengah-tengah kehidupan jaman modern, yang cenderung individualis dan materialis ini, persaudaraan atau ukhuwah menjadi hal yang sangat penting untuk dibangun demi terciptanya tatanan masyarakat yang rukun dan damai. Pentingnya Ukhuwah itu diantaranya sebagai berikut.

1). Ukhuwah menjadi pilar kekuatan Islam

Rasulullah SAW bersabda: “Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” artinya Islam itu agama yang tinggi/hebat tidak ada yang lebih tinggi/hebat dari Islam. Ketinggian kehebatan Islam itu akan menjadi realita manakala Umat Islam mampu menegakkan ukhuwah terhadap sesamanya, memperbanyak persamaan dan memperkecil perbedaan. Jika umat Islam sering bermusuhan, Islam akan lemah dan tidak punya kekuatan. Jadi, tegaknya ukhuwah dan terjalinnya ukhuwah menjadi syarat utama kekuatan Islam.

2).Bangunan Ukhuwah yang solid, akan memudahkan membangun masyarakat madani.

Masyarakat madani adalah masyarakat yang ideal, yang memiliki karakteristik, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, kedamaian, kerukunanm saling tolong-menolong, toleran, seimbang, berperadaban tinggi dan berakhlak mulia/bermoral. Dan nilai-niali tersebut akan mudah terwujud  dan menjadi kenyataan, jika manusia memiliki ketulusan, keikhlasan dan dan kemauan yang tinggi untuk merajut dan membangun simpul ukhuwah yang sudah terkoyak.

3).Ukhuwah merupakan bagian terpenting dari Iman.

Iman tidak akan sempurna tanpa disertai dengan ukhuwah dan ukhuwah tidak akan bermakna tanpa dilandasi keimanan, jika ukhuwah lepas dari kendali iman, yang perekatnya adalah kepentingan pribadi, kolompok kesukuan, maupun hal-hal lain yang bersifat materi yang semuanya itu bersifat semu dan sementara.

4). Ukhuwah merupakan benteng dalam mengahadapi musuh-musuh Islam.

Orang-orang yang mempunyai misi yang sama, yaitu memusuhi dan ingin menghancurkan Islam (QS. Al Baqarah : 120). Dan mereka selalu bersama-sama antara yang satu dengan yang lain. Realitanya seperti sekarang ini Islam selalu diobok-obok dan selalu dikambing hitamkan oleh mereka. Oleh karena itu, Umat Islam jangan mudah terpengaruh dan jangan mudah terprovokasi dengan mereka, kita harus menghadapi dengan barisan ukhuwah yang rapi dan teratur. Jika kita bermusuhan mereka akan mudah memecah belah dan menghancurkan Islam.

 

d.    Penyakit Ukhuwah

        Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, menjalin ukhuwah memang tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, mengingat banyak ranjau-ranjau menghadang, dan itulah penyakit-penyakit kronis yang seharusnya kita basmi, dan tentunya membutuhkan perjuangan dan proses yang panjang.

 Menurut Dr. KH Didin Hafidhuddin (2003), diantara penyakit-penyakit Ukhuwah yang seharusnya kita basmi dan kita jauhi adalah sebagai berikut.

1). Pemahaman Islam yang tidak komprehensif dan kaffah. Berbagai pertentangan atau permusuhan diantara sesama yang terjadi adalah pemahaman umat Islam sendiri yang masih dangkal. Umat Islam masih belum parsial dalam mengkaji Islam, belum integral, belum kaffah, sehingga mereka cenderung untuk mencari perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip dari pada kesamaannya. Karena pemahaman Islam yang masih sempit inilah yang menjadi suatu embrio atau bibit munculnya permusuhan terhadap sesamanya.

2). Ta’asub atau fanatisme yang berlebihan

   Sikap fanatik yang berlebih-lebihan dengan mengagung-agungkan kelompoknya, menganggap kelompoknya paling benar, paling baik dan meremehkan kelompok lain, padahal masih satu agama, itu merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak dibenarkan dalam Islam, karena dapat merusak tali ukhuwah. Oleh karenanya hal tersebut harus kita hindari.

3). Kurang toleransi atau tasamuh

   Kurangnya sikap toleransi atau sikap saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi, sehingga menutup pintu dialog secara terbuka dan kreatif, juga menjadi penghalang dalam merajut kembali ukhuwah. Oleh karenanya, perlu kita optimalkan secara terus-menerus untuk mengembangkan sikap toleransi tersebut dalam kehiduapn sehari-hari.

4). Suka bermusuhan

   Ini adalah merupakan penyakit  ukhuwah yang sangat berbahaya, jika dalam hati manusia sudah dirasuki sifat hasut, dengki, iri hati, yang ada dalam hatinya hanyalah dendam dan permusuhan. Jika hal tersebut tidak kita akhiri akan dapat memporak porandakan ukhuwah.

5). Kurang bersedia untuk saling bertausiyah (menasehati)

  Kurangnya bersedia untuk saling bertausiyah atau saling menasehati dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran juga turut memberi aset memperburuk merajut ukhuwah, karena masing-masing senang melihat mereka jatuh dalam kelemahan dan kebodohannya. Lebih parah lagi diantara mereka sudah tidak mau atau enggan untuk dikritik karena sudah merasa pintar dan benar.

 

e.      Upaya dalam Mewujudkan Ukhuwah

        Ukhuwah sebagai rahmat dan karunia Allah SWT, harus terus menerus diupayakan penerapannya dalam kehidupan umat manusia dalam rangka mewujudkan kerukunan dan perdamaian di muka bumi. Hal ini akan dapat tercipta jika ukhuwah atau persaudaraan dapat diwujudkan.

        Adapun langkah-langkah kongkrit yang harus kita lakukan dalam mewujudkan ukhuwah atau persaudaraan adalah sebagai berikut :

1)      Secara terus-menerus melakukan kegiatan dakwah Islamiyah terhadap umat Islam, tentang pentingnya menjalin ukhuwah terhadap sesamanya dan menjelaskan pada mereka tentang bahaya jika kita saling bermusuhan. Tentunya dengan metode yang teratur dan sistimatis, baik melalui dakwah bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil qolam.

2)      Berusaha meningkatkan frekuensi silaturahmi, saling mengunjungi, saling bertegur sapa baik dalam forum formal, maupun informal terutama kepada mereka yang memutuskan hubungan baik dengan kita. Silaturahmi ini dapat merajut ukhuwah, juga banyak segi manfaatnya bagi pelaku silaturahmi, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang ingin dipanjangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, senang bersilaturahmi”.

3)      Memperbanyak dialog internal maupun antar umat beragama untuk menyamakan presepsi terhadap setiap permasalahan yang fundamental dalam arti mencari persamaan bukan perbedaan pendapat yang mengarah pada konflik kontroversial, menahan diri dari kometar-komentar yang belum jelas, tidak mudah emosional dan senantiasa mengedepankan rasional dan pertimbangan akal sehat, Akhirnya, tercipta budaya dialog yang sehat yang mengarah mempererat tali ukhuwah dan terciptanya kerukunan.

4)      Meningkatkan peran lembaga lintas organisasi dan lembaga pemerintahan untuk terus menerus melakukan berbagai macam kegiatan yang berorientasi pada upaya merajut simpul ukhuwah agar tercapai tatanan masyarakat penuh kerukunan dan kedamaian sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.

5)      Menghimbau kepada semua umat manusia terutama umat Islam untuk berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas iman dan takwanya. Jika iman dan takwanya berkualitas dan sempurna, mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran termasuk dalam hal mengaktualisasikan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari.

 

C.     Kerukunan, Kebersamaan dan Pluralitas Agama

            Pada era globalisasi sekarang ini, umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya. Pluralitas agama adalah fenomena nyata yang ada dalam kehidupan. Pluralitas merupakan hukum alam (sunnatullah) yang mesti terjadi dan tidak mungkin terelakkan. Ia sudah merupakan kodrati dalam kehidupan. Dalam QS. Al Hujurat : 13, Allah menggambarkan adanya indikasi yang cukup kuat tentang pluralitas tersebut.

        Namun pluralitas tidak semata menunjukkan pada kenyataan adanya kemajemukan, tetapi lebih dari itu adanya keterlibatan aktif terhadap kenyataan adanya pluralitas tersebut. Pluralitas agama dapat kita jumpai, seperti di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat bekerja, di pasar tempat belanja, di perguruan tinggi tempat belajar. Seorang baru dikatakan memiliki sifat keterlibatan aktif dalam pluralitas apabila dia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan kemajemukan. Dengan kata lain, pemahaman pluralitas agama menuntut sikap pemeluk agama untuk tidak hanya mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga harus terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna mencapai kerukunan dan kebersamaan.   

        Bila dikaji, eksistansi manusia dalam kerukunan dan kebersamaan ini, diperoleh pengertian bahwa arti sesungguhnya dari manusia bukan terletak pada akunya, tetapi pada kitanya atau pada kebersamaanya. Kerukunan dan kebersamaan ini bukan hanya harus tercipta intern seagama tetapi yang lebih penting adalah antar umat yangberbeda agama didunia (pluralitas agama).   

        Dalam mewujudkan kerukunan dan kebersamaan dalam pluralitas agama, didalam QS. An Naml: 125, menganjurkan dialog yang baik. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal dan saling membina pengetahuan tentang agama kepada mitra dialog. Dialog tersebut dengan sendirinya akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan untuk menjalin kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

        Kerukunan dan kebersamaan yang didambakan dalam Islam bukanlah yang bersifat semu, tetapi yang dapat memberikan rasa aman pada jiwa setiap manusia. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mewujudkannya dalam setiap individu, setelah itu, melangkah pada keluarga, kemudian masyarakat luas dan selanjutnya pada seluruh bangsa di dunia ini. Akhirnya, dapat tercipta kerukunan, kebersamaan dan perdamaian dunia.

            Ada perbedaan yang mendasar anatara kerukunan dengan toleransi, namun antara keduanya saling berhubungan, kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda, sedangkan toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan, tanpa kerukunan, toleransi tidak pernah tercermin bila kerukunan belum terwujud.

        Itulah konsep ajaran Islam tentang Pluralitas, kalaupun kenyataannya berbeda dengan realita, bukan berarti konsep ajarannya yang salah. Akan tetapi, pelaku atau manusianya yang perlu dipersalahkan dan selanjutnya diingatkan dengan cara-cara yang hasanah dan hikmah.

 

 

 

 

Rangkuman

        Bentuk persaudaraan yang dianjurkan oleh Al-quran tidak hanya persaudaraan satu aqidah namun juga dengan warga masyarakat lain yang berbeda aqidah. Terhadap saudara kita yang sesama aqidah, Al-quran bahkan jelas menggaris bawahi akan urgensinya. Beberapa petunjuk menyangkut persaudaraan dengan sesama muslim dijelaskan secara rinci.

        Di antara perincian tentang petunjuk tersebut adalah bahwa penegasan bahwa sesama orang yang beriman mereka bersaudara. Di antara mereka tidak boleh saling mengolok, karena boleh jadi yang diolok-olok sebenarnya lebih baik. Di antara mereka juga tidak boleh saling menggunjing, karena perbuatan tersebut merupakan dosa. Dan antar sesama muslim harus saling menolong untuk melaksanakan kebaikan dan ketakwaan, juga saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

        Terhadap warga masyarakat yang non-muslim, persaudaraan harus juga dibina. Persaudaraan dan kerja sama tersebut tentu saja bukan dalam hal aqidah, karena kalau dalam bidang aqidah sudah jelas berbeda maka tidak mungkin ada titik temu. Toleransi tersebut sebatas menyangkut hubungan antar sesama dan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Maka dalam menjalin toleransi tersebut ada etika yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh menghina keyakinan agama lain serta tidak boleh mencampur adukkan aqidah masing-masing.

Daftar Pustaka

·     Daud Ali, Mohammad, 1998. Pendidikan Agama Islam, Jakarata, Rajawalu pers.

·     Departemen Agama RI, 2001. Buku teks Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi umum, Jakarta, Direktorat Jendral kelembagaan agama Islam.

·     ———-, 1980. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama Jakarta.

·     Hafifudin, 2003. D. Islam Aplikatif, Jakarta, Gema Insani Perss.

·     Imarah, Muhammad, 1999. Islam dan Pluralitas, Jakarta, Gema Insani.

·     Wahyuddin.dkk. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta; PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Download Materi Di Sini

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

BAB II

KERUKUNAN INTERN DAN ANTAR UMAT BERAGAMA

 

        Pada bab 2 ini disajikan uraian tentang  Islam agama rahmat bagi seluruh alam,  pengertian persaudaraan (ukhuwah), macam-macam ukhuwah, pentingnya ukhuwah, penyakit-penyakit ukhuwah, upaya dalam mewujudkan ukhuwah, kerukunan, kebersamaan dan pluralitas agama.

A.    Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam

        Setiap agama di dunia kebanyakan mengambil nama dan penemunya atau tempat agama tersebut dilahirkan dan dikembangkan, sebagaimana nasrani yang mengambil nama dari tempat Nazareth, agama budha yang berasal dari penemunya, Budha Gautama. Tetapi tidaklah demikian untuk agama Islam. Agama Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang, tempat atau masyarakat tertentu agama ini dilahirkan atau disiarkan.

Agama Islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam As. Kemudian Allah turunkan secara  berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul berikutnya. Akhirnya penurunan agama Islam itu terjadi pada masa kerasulan Muhammad SAW pada awal abad VII masehi.

        Ketika Islam mulai disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat Arab, beliau mengajak masyarakat untuk menerima dan menaati ajaran Islam, tanggapan yang mereka sampaikan pada Rasulullah adalah sikap heran, aneh dan ganjil. Islam dianggap sebagai ajaran yang menyimpang dan tradisi leluhur yang telah mendarah daging bagi masyarakat Arab, yang telah mereka taati secara turun temurun, dan mereka tidak mau tahu apakah tradisi itu salah atau benar (Qs. Al Baqarah : 170). Di dalam sebuah hadis juga digambarkan,  bahwa Islam datangnnya dianggap asing dan akan kembali dianggap asing, namun berbahagialah orang yang dianggap asing tersebut.

Kata Islam berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, kerukunan, keselamatan dan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya, bukan untuk mendatangkan dan membuat membuat bencana atau kerusakan di muka bumi. Inilah yang disebut fungsi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatal lil alami)

Fungsi Islam sebagai rahmatal lil alamin tidak tergantung pada penerimaan atau penilaian manusia. Substansi rahmat terletak pada fungsi ajarannya tersebut. Fungsi itu baru akan terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk-makhluk yang lain, jika manusia sebagai pengembangan amanat Allah telah menaati dan menjalankan aturan-aturan ajaran Islam dengan benar dan kaaffah.

        Fungsi Islam sebagai rahmat dan bukan sebagai agama pembawa bencana, dijelaskan oleh Allah dal Al-Qur’an Surat Al Anbiya : 170, :    “ Dan tidaklah Kami mengutus kamu Muhammad SAW, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Sedangkan bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu seperti berikut ini.

a.     Islam menunjukkan manusia jalan hidup yang benar.

b.     Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang diberikan oleh Allah secara tanggung jawab.

c.      Islam menghormati dan menghargai manusia sebagai hamba Allah, baik mereka muslim maupun yang beragama lain.

d.     Islam mengatur pemnafaatan alam secara baik dan proposional.

e.      Islam menghormati kondisi spesifik individu manusia dan memberikan perlakuan yang spesifik pula.

 

B.    Persaudaraan (Ukhuwah) dalam Islam

a.     Makna Ukhuwah

        Kata ukhuwah berarti persaudaraan. Maksudnya adanya perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan ini menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap saling membagi kesenangan kepada pihak lain mengalami kesulitan. Ukhuwah yang perlu kita jalani bukan hanya inter seagama saja. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah antar umat beragama.

b.    Macam-Macam Ukhuwah

Manusia yang baik adalah manusia yang dapat menjalin dan mempererat ukhuwah antar sesama manusia. Ada tiga macam ukhuwah yang seharusnya dijalin dikehidupan manusia.

1.       Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau persaudaraan yang diikat oleh akidah/keimanan, tanpa membedakan golongan. Sesama akidahnya sama (laa ilaaha illallah) maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin sebaik-baiknya. Sebagai mana dijelaskan Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 10, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara. Oleh karena itu pereratlah simpul persaudaraan diantaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmat”.

Dari ayat diatas jelas bahwa kita sesama umat Islam ini adalah saudara, dan wajib menjalin terus persaudaraan diantara sesama umat Islam, marilah yang saudara kita jadikan saudara dan jangnlah saudara kita dianggap sebagai musuh, hanya karena masalah-masalah sepele kecil yang tidak berarti. Jika kita lakukan, akan terjadi permusuhan yang pada akhirnya dapat melumpuhkan kerukunan dan keutuhan bangsa.

2.       Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah,  persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Persaudaraan yang diikat oleh jiwa kemanusiaan. Maksudnya, kita sebagai manusia harus dapat memanusiakan manusia dan memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.

Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Sekalipun, Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan atas pertimbangan rasionya. Jika ukhuwah insaniyah, tidak dilandasi dengan ajaran agama keimanan dan ketakwaan yang akan muncul adalah jiwa kebinatangan yang penuh keserakahan dan tak kenal halal atau haram, bahkan dapat bersikap kanibal terhadap sesamanya. Thomas Hobber mengatakan bahwa manusia disebut ­homo homini lopus artinya manusia adalah serigala bagi manusia lain.

3.       Ukhuwah Wathoniyah, persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme/jiwa kebangsaan tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Semuanya itu adalah saudara yang perlu untuk dijalin, karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia. Mengingat pentingnya menjalin hubungan kebangsaan ini Rasulullah bersabda “hubbul wathon minal iman” artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari iman.

Sebagai seorang Muslim, harus berupaya semaksimal  mungkin untuk mengaktualiksasikan ketiga macam ukhuwah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, apabila ketiganya terjadi secara bersamaan, maka yang harus kita prioritaskan adalah Ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah ini menyangkut kehidupan dunia dan akhirat.

c.      Pentingnya Ukhuwah

Ditengah-tengah kehidupan jaman modern, yang cenderung individualis dan materialis ini, persaudaraan atau ukhuwah menjadi hal yang sangat penting untuk dibangun demi terciptanya tatanan masyarakat yang rukun dan damai. Pentingnya Ukhuwah itu diantaranya sebagai berikut.

1). Ukhuwah menjadi pilar kekuatan Islam

Rasulullah SAW bersabda: “Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” artinya Islam itu agama yang tinggi/hebat tidak ada yang lebih tinggi/hebat dari Islam. Ketinggian kehebatan Islam itu akan menjadi realita manakala Umat Islam mampu menegakkan ukhuwah terhadap sesamanya, memperbanyak persamaan dan memperkecil perbedaan. Jika umat Islam sering bermusuhan, Islam akan lemah dan tidak punya kekuatan. Jadi, tegaknya ukhuwah dan terjalinnya ukhuwah menjadi syarat utama kekuatan Islam.

2).Bangunan Ukhuwah yang solid, akan memudahkan membangun masyarakat madani.

Masyarakat madani adalah masyarakat yang ideal, yang memiliki karakteristik, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, kedamaian, kerukunanm saling tolong-menolong, toleran, seimbang, berperadaban tinggi dan berakhlak mulia/bermoral. Dan nilai-niali tersebut akan mudah terwujud  dan menjadi kenyataan, jika manusia memiliki ketulusan, keikhlasan dan dan kemauan yang tinggi untuk merajut dan membangun simpul ukhuwah yang sudah terkoyak.

3).Ukhuwah merupakan bagian terpenting dari Iman.

Iman tidak akan sempurna tanpa disertai dengan ukhuwah dan ukhuwah tidak akan bermakna tanpa dilandasi keimanan, jika ukhuwah lepas dari kendali iman, yang perekatnya adalah kepentingan pribadi, kolompok kesukuan, maupun hal-hal lain yang bersifat materi yang semuanya itu bersifat semu dan sementara.

4). Ukhuwah merupakan benteng dalam mengahadapi musuh-musuh Islam.

Orang-orang yang mempunyai misi yang sama, yaitu memusuhi dan ingin menghancurkan Islam (QS. Al Baqarah : 120). Dan mereka selalu bersama-sama antara yang satu dengan yang lain. Realitanya seperti sekarang ini Islam selalu diobok-obok dan selalu dikambing hitamkan oleh mereka. Oleh karena itu, Umat Islam jangan mudah terpengaruh dan jangan mudah terprovokasi dengan mereka, kita harus menghadapi dengan barisan ukhuwah yang rapi dan teratur. Jika kita bermusuhan mereka akan mudah memecah belah dan menghancurkan Islam.

 

d.    Penyakit Ukhuwah

        Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, menjalin ukhuwah memang tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, mengingat banyak ranjau-ranjau menghadang, dan itulah penyakit-penyakit kronis yang seharusnya kita basmi, dan tentunya membutuhkan perjuangan dan proses yang panjang.

 Menurut Dr. KH Didin Hafidhuddin (2003), diantara penyakit-penyakit Ukhuwah yang seharusnya kita basmi dan kita jauhi adalah sebagai berikut.

1). Pemahaman Islam yang tidak komprehensif dan kaffah. Berbagai pertentangan atau permusuhan diantara sesama yang terjadi adalah pemahaman umat Islam sendiri yang masih dangkal. Umat Islam masih belum parsial dalam mengkaji Islam, belum integral, belum kaffah, sehingga mereka cenderung untuk mencari perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip dari pada kesamaannya. Karena pemahaman Islam yang masih sempit inilah yang menjadi suatu embrio atau bibit munculnya permusuhan terhadap sesamanya.

2). Ta’asub atau fanatisme yang berlebihan

   Sikap fanatik yang berlebih-lebihan dengan mengagung-agungkan kelompoknya, menganggap kelompoknya paling benar, paling baik dan meremehkan kelompok lain, padahal masih satu agama, itu merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak dibenarkan dalam Islam, karena dapat merusak tali ukhuwah. Oleh karenanya hal tersebut harus kita hindari.

3). Kurang toleransi atau tasamuh

   Kurangnya sikap toleransi atau sikap saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi, sehingga menutup pintu dialog secara terbuka dan kreatif, juga menjadi penghalang dalam merajut kembali ukhuwah. Oleh karenanya, perlu kita optimalkan secara terus-menerus untuk mengembangkan sikap toleransi tersebut dalam kehiduapn sehari-hari.

4). Suka bermusuhan

   Ini adalah merupakan penyakit  ukhuwah yang sangat berbahaya, jika dalam hati manusia sudah dirasuki sifat hasut, dengki, iri hati, yang ada dalam hatinya hanyalah dendam dan permusuhan. Jika hal tersebut tidak kita akhiri akan dapat memporak porandakan ukhuwah.

5). Kurang bersedia untuk saling bertausiyah (menasehati)

  Kurangnya bersedia untuk saling bertausiyah atau saling menasehati dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran juga turut memberi aset memperburuk merajut ukhuwah, karena masing-masing senang melihat mereka jatuh dalam kelemahan dan kebodohannya. Lebih parah lagi diantara mereka sudah tidak mau atau enggan untuk dikritik karena sudah merasa pintar dan benar.

 

e.      Upaya dalam Mewujudkan Ukhuwah

        Ukhuwah sebagai rahmat dan karunia Allah SWT, harus terus menerus diupayakan penerapannya dalam kehidupan umat manusia dalam rangka mewujudkan kerukunan dan perdamaian di muka bumi. Hal ini akan dapat tercipta jika ukhuwah atau persaudaraan dapat diwujudkan.

        Adapun langkah-langkah kongkrit yang harus kita lakukan dalam mewujudkan ukhuwah atau persaudaraan adalah sebagai berikut :

1)      Secara terus-menerus melakukan kegiatan dakwah Islamiyah terhadap umat Islam, tentang pentingnya menjalin ukhuwah terhadap sesamanya dan menjelaskan pada mereka tentang bahaya jika kita saling bermusuhan. Tentunya dengan metode yang teratur dan sistimatis, baik melalui dakwah bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil qolam.

2)      Berusaha meningkatkan frekuensi silaturahmi, saling mengunjungi, saling bertegur sapa baik dalam forum formal, maupun informal terutama kepada mereka yang memutuskan hubungan baik dengan kita. Silaturahmi ini dapat merajut ukhuwah, juga banyak segi manfaatnya bagi pelaku silaturahmi, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang ingin dipanjangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, senang bersilaturahmi”.

3)      Memperbanyak dialog internal maupun antar umat beragama untuk menyamakan presepsi terhadap setiap permasalahan yang fundamental dalam arti mencari persamaan bukan perbedaan pendapat yang mengarah pada konflik kontroversial, menahan diri dari kometar-komentar yang belum jelas, tidak mudah emosional dan senantiasa mengedepankan rasional dan pertimbangan akal sehat, Akhirnya, tercipta budaya dialog yang sehat yang mengarah mempererat tali ukhuwah dan terciptanya kerukunan.

4)      Meningkatkan peran lembaga lintas organisasi dan lembaga pemerintahan untuk terus menerus melakukan berbagai macam kegiatan yang berorientasi pada upaya merajut simpul ukhuwah agar tercapai tatanan masyarakat penuh kerukunan dan kedamaian sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.

5)      Menghimbau kepada semua umat manusia terutama umat Islam untuk berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas iman dan takwanya. Jika iman dan takwanya berkualitas dan sempurna, mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran termasuk dalam hal mengaktualisasikan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari.

 

C.     Kerukunan, Kebersamaan dan Pluralitas Agama

            Pada era globalisasi sekarang ini, umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya. Pluralitas agama adalah fenomena nyata yang ada dalam kehidupan. Pluralitas merupakan hukum alam (sunnatullah) yang mesti terjadi dan tidak mungkin terelakkan. Ia sudah merupakan kodrati dalam kehidupan. Dalam QS. Al Hujurat : 13, Allah menggambarkan adanya indikasi yang cukup kuat tentang pluralitas tersebut.

        Namun pluralitas tidak semata menunjukkan pada kenyataan adanya kemajemukan, tetapi lebih dari itu adanya keterlibatan aktif terhadap kenyataan adanya pluralitas tersebut. Pluralitas agama dapat kita jumpai, seperti di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat bekerja, di pasar tempat belanja, di perguruan tinggi tempat belajar. Seorang baru dikatakan memiliki sifat keterlibatan aktif dalam pluralitas apabila dia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan kemajemukan. Dengan kata lain, pemahaman pluralitas agama menuntut sikap pemeluk agama untuk tidak hanya mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga harus terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna mencapai kerukunan dan kebersamaan.   

        Bila dikaji, eksistansi manusia dalam kerukunan dan kebersamaan ini, diperoleh pengertian bahwa arti sesungguhnya dari manusia bukan terletak pada akunya, tetapi pada kitanya atau pada kebersamaanya. Kerukunan dan kebersamaan ini bukan hanya harus tercipta intern seagama tetapi yang lebih penting adalah antar umat yangberbeda agama didunia (pluralitas agama).   

        Dalam mewujudkan kerukunan dan kebersamaan dalam pluralitas agama, didalam QS. An Naml: 125, menganjurkan dialog yang baik. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal dan saling membina pengetahuan tentang agama kepada mitra dialog. Dialog tersebut dengan sendirinya akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan untuk menjalin kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

        Kerukunan dan kebersamaan yang didambakan dalam Islam bukanlah yang bersifat semu, tetapi yang dapat memberikan rasa aman pada jiwa setiap manusia. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mewujudkannya dalam setiap individu, setelah itu, melangkah pada keluarga, kemudian masyarakat luas dan selanjutnya pada seluruh bangsa di dunia ini. Akhirnya, dapat tercipta kerukunan, kebersamaan dan perdamaian dunia.

            Ada perbedaan yang mendasar anatara kerukunan dengan toleransi, namun antara keduanya saling berhubungan, kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda, sedangkan toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan, tanpa kerukunan, toleransi tidak pernah tercermin bila kerukunan belum terwujud.

        Itulah konsep ajaran Islam tentang Pluralitas, kalaupun kenyataannya berbeda dengan realita, bukan berarti konsep ajarannya yang salah. Akan tetapi, pelaku atau manusianya yang perlu dipersalahkan dan selanjutnya diingatkan dengan cara-cara yang hasanah dan hikmah.

 

 

 

 

Rangkuman

        Bentuk persaudaraan yang dianjurkan oleh Al-quran tidak hanya persaudaraan satu aqidah namun juga dengan warga masyarakat lain yang berbeda aqidah. Terhadap saudara kita yang sesama aqidah, Al-quran bahkan jelas menggaris bawahi akan urgensinya. Beberapa petunjuk menyangkut persaudaraan dengan sesama muslim dijelaskan secara rinci.

        Di antara perincian tentang petunjuk tersebut adalah bahwa penegasan bahwa sesama orang yang beriman mereka bersaudara. Di antara mereka tidak boleh saling mengolok, karena boleh jadi yang diolok-olok sebenarnya lebih baik. Di antara mereka juga tidak boleh saling menggunjing, karena perbuatan tersebut merupakan dosa. Dan antar sesama muslim harus saling menolong untuk melaksanakan kebaikan dan ketakwaan, juga saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

        Terhadap warga masyarakat yang non-muslim, persaudaraan harus juga dibina. Persaudaraan dan kerja sama tersebut tentu saja bukan dalam hal aqidah, karena kalau dalam bidang aqidah sudah jelas berbeda maka tidak mungkin ada titik temu. Toleransi tersebut sebatas menyangkut hubungan antar sesama dan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Maka dalam menjalin toleransi tersebut ada etika yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh menghina keyakinan agama lain serta tidak boleh mencampur adukkan aqidah masing-masing.

Daftar Pustaka

·     Daud Ali, Mohammad, 1998. Pendidikan Agama Islam, Jakarata, Rajawalu pers.

·     Departemen Agama RI, 2001. Buku teks Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi umum, Jakarta, Direktorat Jendral kelembagaan agama Islam.

·     ———-, 1980. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama Jakarta.

·     Hafifudin, 2003. D. Islam Aplikatif, Jakarta, Gema Insani Perss.

·     Imarah, Muhammad, 1999. Islam dan Pluralitas, Jakarta, Gema Insani.

·     Wahyuddin.dkk. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta; PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.